Hari Tuberkolosis Sedunia Diperingati Tanggal 24 Maret, Angka Deteksi Masih Rendah, Ini Sebabnya

- 24 Maret 2023, 16:35 WIB
Hari ini tanggal 24 Maret 2023 diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia. Hari Tuberkulosis Sedunia diciptakan  oleh Organisasi  Kesehatan  Dunia (WHO), tujuannnya meningkatkan kesadaran masyarakat akan penyakit Tuberkulosis.
Hari ini tanggal 24 Maret 2023 diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia. Hari Tuberkulosis Sedunia diciptakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tujuannnya meningkatkan kesadaran masyarakat akan penyakit Tuberkulosis. /purwoko/yogyaline.com

YOGYALINE - Hari Tuberkulosis Sedunia diperingati setiap tanggal 24 Maret, atau tepat hari Jumat ini. Hari Tuberkulosis Sedunia dicetuskan oleh Organisasi  Kesehatan  Dunia (WHO), dimana tujuannnya meningkatkan kesadaran masyarakat akan penyakit Tuberkulosis.

Ironisnya, dalam peringatan tahun ini Indonesia masih menjadi negara dengan beban tuberkulosis (TB) tertinggi kedua dunia setelah India.

Data Global TB Report (GTR) tahun 2022 melaporkan kasus TB di Indonesia diperkirakan ada sebanyak 960.000 kasus baru setiap tahun. 

Baca Juga: Swiss Open 2023 Hari Ini, 24 Maret 2023, Tampil 5 Wakil Indonesia, Cek Jadwal, Link Live Streaming di Sini

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk pengendalian TB.

Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakst dan Keperawatan (FKKMK) UGM yang tergabung dalam penelitian operasional  kolaborasi dalam program Zero TB Yogyakarta  (ZTBY) berupaya secara aktif  membantu percepatan eliminasi TB tahun 2030.

Selain FKKMK UGM, ZTBY berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DIY, Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, dan Burnet Institute Melbourne Australia. 

Project Leader Zero TB Yogyakarta (ZTBY), dr. Rina Triasih., M.Med (Paed), Ph.D., menyampaikan tingkat deteksi kasus secara nasional pada tahun 2021 masih rendah di angka 45 persen.

Salah satunya dikarenakan masih banyak orang yang sakit TB belum berobat ke fasilitas kesehatan.

Hal itu ditambah penemuan kasus di Indonesia masih dilakukan secara pasif yang hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.

"Zero TB Yogyakarta ini kita melakukan pendekatan secara komprehensif, yakni menemukan pasien TB, mengobati, dan mencegah penularan,” kata dr Rina Triasih seperti dikutip dari laman UGM, Jumat, 24 Maret 2023.

Baca Juga: Jadwal Kapal Pelni KM Dobonsolo Maret – April 2023, Rute Jayapura, Ambon, Serui, Sorong, Bau Bau, Surabaya

Peneliti pada Pusat Kedokteran Tropis UGM dan dosen di FKKMK UGM ini menjelaskan ada dua kegiatan utama yang dilakukan ZTBY. Yakni menemuan kasus secara aktif dan inovasi pada kegiatan investigasi kontak, diikuti dengan pemberian terapi pencegahan TB (TPT) jangka pendek.***/bambang sugiharto

Editor: A. Purwoko


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah